Join Us On Facebook

Please Wait 10 Seconds! or closed here

Terbaru

Dating With The Dark Bab 8

19 Mei 2013


dating-thumb
Christopher terus menghisap payudaranya, memainkan lidahnya dengan penuh perhitungan, menyentuh ujung payudara Andrea  sehingga rasa panas itu semakin membakarnya. Tangan Andrea yang terikat di ujung ranjang menegang, menahan dorongan untuk meremas rambut gelap Christopher yang sekarang tenggelam di dadanya, tubuhnya melengkung menahan perasaan nikmat yang bertentangan dengan perlawanan kuat di dalam dirinya.

Andrea megap-megap, napasnya terengah-engah menahankan rasa ketika Christopher mencumbunya dengan begitu intim. Lelaki itu telah melakukan sesuatu yang  begitu berani, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Andrea selain dalam mimpi-mimpi erotisnya yang aneh.

Sekarang Andrea berbaring di ranjang bersprei sutera hitam itu, telanjang bulat di balik selimutnya, kaki dan tangannya terborgol di ujung ranjang, membuatnya tak berdaya, sementara Christopher terus dan terus mencumbunya payudaranya tanpa belas kasihan, nemainkan dadanya dengan sangat ahli hingga membuat Andrea amat sangat terangsang, dipaksa terangsang sampai kepalanya terasa pusing.

Lama kemudian, setelah puas, Christopher mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis. Tubuh Andrea merona, tampak di sekujur kulitnya yang putih langsat, napasnya terengah-engah, sementara puncak payudaranya yang menjadi korban siksaan Christopher benar-benar mengeras dan tegak menantang, seolah-olah meminta disentuh.

Christopher menatap itu semua dan menggertakkan giginya sendiri untuk menahan gairahnya yang memuncak, membuat kejantanannya mengeras hingga terasa nyeri di balik jubah tidurnya.

Tidak. Christoper mengeraskan hatinya. Belum saatnya. Akan terlalu terburu-buru kalau dia melakukannya sekarang.  Lelaki itu mengamati Andrea yang terus mengawasinya dengan tatapan berkabut sekaligus waspada, dan meskipun tak kentara, ada ketakutan di sana, di dalam tatapan mata Andrea, ketakutan yang bercampur dengan ketidakberdayaan.

Lembut Christopher mengulurkan tangannya dan menyadari bahwa Andrea langsung menegang, seperti hewan terluka yang tidak percaya kepada penolongnya. Tetapi yang dilakukan Christopher hanyalah menaikkan selimut sutera hitamnya, kembali menutupi buah dadanya.

Lelaki itu melirik ke arah lilin berwarna biru yang menyala di kaki ranjang, yang tidak mampu dilirik oleh Andrea karena membuat perutnya bergolak oleh sesuatu yang tidak mampu dikendalikannya.

"Apakah lilin itu mempunyai arti untukmu?"

Meskipun wajahnya masih merah padam karena malu bercampur berbagai perasaan yang tak mampu diungkapkannya, Andrea tetap menjawab dengan lantang.

"Lilin itu hanya mengingatkanku akan perasaan mual dan ketakutan. Kalau memang tujuanmu adalah untuk menyiksaku maka selamat, kau sudah berhasil melakukannya."

Christopher terdiam, dan menatap Andrea dengan pandangan dalam dan menusuk dari mata gelapnya yang berkabut, dialalu mengangkat bahunya,

"Kau akan menyadari apa arti lilin itu untukmu nanti, Andrea."

Lalu tanpa berkata-kata lagi, Christopher membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Andrea.

Andrea yang menyadari bahwa Christopher akan keluar dari ruangan, membiarkannya tetap dalam kondisi terikat mulai panik.

"Apakah kau akan meninggalkanku dalam kondisi seperti ini? Tunggu dulu! Christopher! Christopher!" Andrea berteriak memanggil-manggil tetapi  sepertinya lelaki itu tidak peduli dan dengan langkah tenang melangkah pergi, meninggalkan pintu itu terkunci di belakangnya dengan Andrea yang terikat sendirian di ranjang, bersama Lilin yang masih menyala itu, membuatnya mual.

***

"Tuan tidak boleh menahannya terborgol seperti itu, dia akan memar dan pegal setengah mati nantinya." Richard, tangan kanan Christopher sekaligus pelayannya yang setia mengernyitkan keningnya ketika melihat Christopher keluar dari kamar tempat Andrea dikurung dan menguncinya.

Christopher mengangkat alisnya. "Kenapa kau begitu peduli kepadanya, Richard?"

Richard langsung menatap tuannya itu dengan tatapan mata tajam dan penuh makna yang hanya bisa dimengerti oleh Christopher.

"Tuan tahu saya pasti peduli." Dia menatap tuannya dengan berani, tahu bahwa tuannya akan setuju dengan tindakannya, "Saya akan mengirimkan pelayan perempuan dan penjaga untuk membantu nona Andrea supaya dilepaskan borgolnya."

Christopher terdiam, tahu bahwa biarpun dia tidak mengizinkan, pelayan tuanya yang keras kepala ini pasti akan tetap melaksanakan niatnya. Kadangkala Christopher berpikir bahwa Richard tidak takut kepadanya, lelaki itu terlalu lama bersamanya untuk merasa takut.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Tapi pastikan pengawal laki-laki itu tidak melihat apapun, biarkan pelayan perempuan yang membantu melepaskan borgolnya." Tatapan Christopher menajam, "Andrea telanjang bulat di balik selimutnya, dan kalau sampai pengawal itu mencuri pandang, bunuh dia."

Lalu dengan langkah lebar-lebar, Christopher meninggalkan pintu kamar itu dan melangkah menuju ruang kerjanya, dia mengangkat telepon di atas meja kerjanya yang besar dan menghubungi nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala.

"Halo?" sebuah suara yang tenang menjawab langsung pada deringan pertama. Karena nomornya adalah nomor khusus yangmana hanya orang-orang tertentu yang bisa menghubunginya, jadi siapapun yang meneleponnya pastilah untuk urusan penting.

"Romeo." Christopher menyapa dengan tenang, menyebut nama rekan sekaligus sahabatnya ketika mereka pernah bertemu di masa lalu mereka ketika sama-sama berada di jerman.

Sejenak hening di seberang sana lalu Romeo menyapa setengah terkejut,

"Christopher?" Lalu ada senyum dalam suara Romeo, "Kau menghubungiku akhirnya." Sudah lima tahun sejak Romeo memberikan nomor pribadinya ini kepada Christopher, tetapi kemudian Christopher sepertinya menghilang ditelan bumi, dan berapa lamapun Romeo menunggu, lelaki itu tak pernah menghuunginya lagi.

"Ya. Aku membutuhkan bantuanmu, Romeo. Aku harap tawaranmu waktu itu masih berlaku."

Romeo tercenung di seberang sana, masih merasa terkejut karena tiba-tiba saja, sahabatnya yang menghilang bagai ditelan bumi ini menghubunginya. Seharusnya Romeo tidak terkejut, dia tahu Christopher memiliki dua sisi kehidupan, yang satu sebagai  seorang pengusaha yang sukses, Lelaki Italia kaya pemilik berhektar-hektar area perkebunan yang begitu luas dan subur,  dan yang lainnya adalah kehidupan misterius yang penuh bahaya.

"Masih." Jawab Romeo akhirnya, pada akhirnya dia harus membalas budi kepada Christopher dan Romeo tidak keberatan melakukannya, dia berhutang nyawa kepada sahabatnya yang satu itu. "Kapan kau ingin bertemu?"

Christopher tersenyum, "Aku selalu yakin aku bisa mengandalkanmu, aku akan menghubungimu lagi nanti untuk membahas pertemuan kita." Gumamnya sebelum mengakhiri percakapan.

***

Di seberang sana, dalam ruangan kantor sementaranya ketika berkunjung ke kantor cabang, Romeo termenung sambil menatap ponselnya yang dia letakkan di meja kerjanya.

Christopher Agnelli...sang bangsawan muda yang ditemuinya tanpa sengaja ketika dia melanjutkan kuliahnya di Jerman, di kota kelahiran ayahnya. Waktu itu Romeo masih seorang pemuda yang mencari jati dirinya, menggoda bahaya merasa tidak pernah takut akan apapun. Lalu dia terlibat dengan sekelompok orang berbahaya yang mengancam nyawanya, sekelompok pengedar obat bius yang semula menganggapnya sasaran empuk, tetapi kemudian menyadari bahwa Romeo tidak bisa diajak kerjasama dan lebih baik dimusnahkan.

Romeo hampir mati disebuah tempat parkir yang  gelap dan terpencil, tanpa ada harapan siapapun yang bisa menolongnya, dan mungkin dia tidak akan pernah hidup sampai sekarang, mati karena dipukuli habis-habisan oleh segerombolan orang yang memang dibayar untuk menghabisinya. Tetapi nasib mengatakan lain, kebetulan Christopher ada di sana, lelaki itu sedang  ada urusan di area itu dan melihat ada seorang pemuda yang meregang nyawa karena dipukuli habis-habisan.

Tanpa pikir panjang Christopher menolong Romeo, bahkan pada usia mudapun, Christopher sudah memiliki kemampuan bela diri yang mematikan, dengan mudahnya dia menumbangkan semua orang itu, yang mungkin jumlahnya lebih dari tujuh orang. Lelaki itu lalu memanggul tubuh Romeo yang sudah lunglai dan memasukkan ke mobilnya, membawanya pergi.

Christopher membawa Romeo ke apartemennya di pusat kota dan ketika Romeo membuka matanya, itulah saat dia berkenalan dengan Christopher Agnelli.

Christopher mempersilahkan Romeo tinggal di apartemennya  sampai lelaki itu sembuh, dan meskipun sikapnya begitu penuh rahasia, lelaki itu pada akhirnya bersedia menjadi teman Romeo. Keakraban mereka bisa dibilang aneh, karena mereka bukan jenis sahabat yang  sering menghabiskan waktu bersama, sering saling berkomunikasi ataupun bertatap muka...walaupun begitu, Christopher akan bersedia melakukan apapun untuk menolong Romeo, demikian juga Romeo yang masih memiliki hutang nyawa kepada Christopher, sudah tentu dia akan melakukan apapun untuk menolong sahabatnya itu.

Tetapi Christopher bukanlah tipe orang yang membutuhkan pertolongan dan bukan jenis orang yang suka meminta tolong kepada orang lain...

Romeo bertopang dagu  dengan bingung, merenung. Kalau sekarang Christopher sampai meminta tolong kepadanya, berarti sahabatnya itu benar-benar membutuhkannya.

Romeo akan melakukan apapun sebisanya untuk membantu.

***

Dua lelaki dengan jenis ketampanan yang sangat berbeda duduk berhadapan di sebuah bar yang sedikit remang dan eksklusif itu. Musik Jazz dimainkan di sudut ruangan dan orang-orang bertebaran di seluruh ruangan, kebanyakan duduk di depan bartender, memesan berbagai jenis minuman berstandar tinggi.

Bar ini adalah bar dan lounge kelas atas yang ada di lantai tujuh di sebuah hotel bintang lima di kota, mengkhususkan diri pada koleksi bir dan anggurnya yang paling lengkap, bar ini cukup diminati untuk pertemuan kalangan eksekutif muda  dari penjuru kota.

Christopher dan Romeo duduk berhadapan di sebuah sudut yang cukup sepi, jauh dari lalu lalang orang. Sudah hampir dua  jam mereka duduk di sana. Romeo lebih banyak mendengarkan sedangkan Christopher bercerita.

Ketika Christopher menyelesaikan ceritanya, Romeo menyesap brendinya, brendi tua yang bagus, yang meskipun menimbulkan rasa menyengat dan membakar di mulutnya, tetapi langsung memberikan sensasi hangat dan nikmat yang diinginkannya.

"Aku tidak menyangka kau mempunyai jalan cerita yang sangat pelik...melibatkan salah seorang pegawaiku pula." Romeo menatap Christopher tajam, "Dan aku menyadari kau ada di ruangan meeting itu, berdiri diam sebagai salah satu pengawal Mr. Demiris." Romeo menatap Christopher tajam, " Aku kaget sebenarnya, tetapi kemudian aku berpkir entah kau sedang dalam penyamaran atau apa karena kau bersikap seolah-olah tak mengenalku, jadi aku tidak mau merusak apapun rencanamu itu.Kupikir setelahnya kau akan menghubungiku. Tetapi ternyata tidak."

Christopher terkekeh, "Maafkan aku, aku terlalu fokus pada rencanaku sehingga melupakanmu."

"Hah. Kau hanya mengingat sahabatmu di saat kau membutuhkan." Romeo bersungut-sungut meskipun ada senyuman di mulutnya.

Sementara itu Christopher hanya tersenyum tipis, "Jadi kau mau membantuku?"

Romeo tercenung, "Aku tentu saja akan membantumu semampuku, meskipun aku tidak menyangka kalau untuk membantumu aku harus melawan pihak berwajib."

"Yang mereka inginkan hanyalah  hasil penelitian ayah Andrea, mereka berpikir Andrea tahu sesuatu tentang sebuah penelitian yang belum selesai menyangkut mereka, dan mereka berpikir dengan menangkapku mereka bisa mengamankan Andrea di suatu tempat, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui...tetapi mereka salah, aku tidak akan semudah itu dikalahkan."

Romeo menatap Christopher dengan hati-hati, "Mengenai penelitian ayah Andrea itu... apakah kau masih terikat dengan organisasi yang menyewamu untuk membunuh ayah Andrea? Apakah sekarang kau menculik Andrea atas perintah mereka?"

Mata Christoher tampak berkilat dingin, "Tidak pernah ada yang bisa memerintahku, semua tahu itu. Ketika aku melakukan semua pekerjaan itu, aku melakukannya karena aku mau, bukan karena melaksanakan perintah mereka. Dan mengenai organisasi itu, permasalahan sudah selesai dengan kematian ayah Andrea, mereka memang menginginkan Andrea mati, tetapi setelah menyadari bahwa perempuan itu tidak tahu apa-apa, aku sendiri yang membuat mereka melupakan Andrea, toh mereka sudah mendapatkan hasilnya."

"Hasilnya?" Romeo menatap Christopher penuh ingin tahu, "Hasil yang bagaimana?"

"Kau pikir peristiwa unjuk rasa besar-besaran di sebuah negara yang heboh di berita beberapa waktu lalu yang pada akhirnya berhasil menurunkan presidennya  secara paksa itu hasil dari penelitian siapa? Mereka menemukan pemicu sederhana yang tidak dipikirkan oleh siapapun dan berhasil mengolahnya menjadi sebuah bom besar yang menggerakkan semua orang untuk berunjuk rasa besar-besaran dan  memberontak, memaksa presiden mereka untuk turun. Organisasi itu telah mencapai tujuannya, mereka sudah menempatkan presiden baru yang mereka inginkan, sesorang yang bisa mereka kelola seperti boneka, seseorang yang ada di pihak mereka, memungkinkan mereka untuk leluasa bergerak  sesuka hati dan memperluas kekuasaannya."

"Wow." Romeo tampak benar-benar kagum, "Dan semua itu bisa terjadi hanya karena otak jenius ayah Andrea. Sekarang mereka sudah memetik keuntungan dari hasil penelitian ayah Andrea." Romeo menyimpulkan  dan menatap Christopher dengan tatapan skeptis, "Sayang sekali semua itu dilakukan dengan mengorbankan nyawa Ayah Andrea...."

"Yah, sayang sekali." Mata Christopher dalam, menyimpan rahasia yang tak terungkapkan. Sebuah rahasia yang belum waktunya ia ungkapkan kepada  siapapun.

***

"Bodoh!" Eric menggebrak meja dengan marah, dihadapan kedua agen yang  sekarang duduk pucat pasi di ruangan yang biasanya dipakai sebagai ruangan interograsi itu.

Kabar itu bagaikan kabar buruk yang menyambar Eric dan langsung menghanguskannya. Kedua agen itu baru bangun dengan kepala pusing di pagi harinya, dan kemudian mereka menyadari bahwa Andrea sudah hilang!

Hilang! Astaga, berbulan-bulan dia menghabiskan waktunya untuk menjaga perempuan itu dan memastikannya aman, tetapi sekarang, hanya sehari ketika dia meninggalkan Andrea, "Sang Pembunuh" berhasil menculik Andrea dari balik punggungnya!

Bagaimana nasib Andrea sekarang tidak ada yang tahu. Eric meremas rambutnya dengan frustrasi. Masihkah Andrea hidup saat ini? Ataukah perempuan itu sekarang sudah menjadi mayat yang dingin, dibuang atau dikubur di suatu tempat yang tak terlacak?

Eric merinding membayangkannya, dia menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Tidak! Selama belum ada bukti bahwa Andrea sudah meninggal, Eric akan selalu berkeyakinan bahwa Andrea masih hidup, lagipula berkas yang pernah ditunjukkan atasannya sedikit banyak memberi kepastian bahwa "Sang Pembunuh mungkin tidak akan membunuh Andrea.

Matanya menatap nyalang kepada dua agen di depannya, dua agen yang sangat teledor hingga bahkan bisa dibodohi dengan mudahnya. Hanya agen bodoh yang bisa dibius oleh satu orang dalam waktu bersamaan. Mereka ada dua orang, demi Tuhan! Bagaimana bisa "Sang Pembunuh" seberuntung itu?

"Kalian katanya adalah agen terbaik di kota ini. Tetapi sekarang aku tahu bahwa kalian hanya sampah yang tidak becus!" Eric membungkukkan tubuhnya dan berdiri dengan kedua tangan bertumpu di meja, membuat matanya sejajar dengan kedua agen yang duduk dengan kepala tertunduk itu, "Tugas kalian hanya menjaga perempuan itu, memastikan dia baik-baik saja sampai aku kembali. Terus mengawasi dan berusaha tidak terlihat. Itu adalah tugas yang paling mudah bagi seorang agen, dan pasti bisa dilakukan kalau kalian tidak teledor!" tatapan Eric berubah mengancam, "Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Andrea, aku akan memastikan kalian langsung ditendang dari divisi ini dan tidak akan pernah bisa berkarier di bidang yang sama, selamanya!"

Setelah meneriakkan kalimat ancaman itu, Eric membalikkan tubuh, membanting pintu ruangan interograsi itu dan meninggalkan dua agen yang semakin pucat pasi itu di belakangnya. Benaknya berkecamuk, bingung.

Dimana dia bisa menemukan Andrea sekarang?

Dengan langkah lebar-lebar dia menuju ke ruang kerjanya dan menelepon atasannya, memberitahukan kabar terbaru,

"Mereka bahkan tidak mengingat apapun dan tertidur pulas sampai pagi." Eric tidak bisa menyembunyikan nada marah di suaranya ketika mengingat dua agen yang teledor itu.

Atasannya menghela napas di seberang sana.

"Sedikit banyak ini kesalahanku, Eric, kalau aku tidak memanggilmu ke kantor pusat kemarin, kau pasti masih ada di sana untuk menjaga Andrea." Lelaki itu tercenung, "Tetapi kalau kau ada di sana, kau akan berhadapan langsung dengan ‘Sang Pembunuh’...dua agen itu beruntung karena "Sang Pembunuh’ memilih untuk tidak mengkonfrontasi mereka dan malahan membius mereka, jadi mereka bisa selamat. Tetapi kalau kau yang berada di sana malam itu, Aku yakin kalau sang pembunuh akan mengkonfontasimu dan aku mengkhawatirkan keselamatanmu."

Mata Eric bercahaya sedikit marah,

"Aku pasti bisa menghadapinya, setidaknya kalau aku  ada di sana, aku bisa mencegahnya membawa Andrea."

Atasannya mendesah, terdengar tidak setuju,

"Sudahlah, sekarang kita harus menemukan cara untuk menemukan Andrea, sebelum semua terlambat."

Eric mendengus setengah frustrasi, Andrea harus ditemukan. Eric akan menggunakan segala cara untuk mencarinya.

***

Andrea duduk kebingungan ketika menatap ke arah para pelayan yang membereskan kamarnya, mereka sedan membereskan tempat tidurnya jadi dia diminta duduk dulu di sofa yang ada di ujung kamar. Matanya berkali-kali melirik ke arah pintu. Semalam setelah Christopher pergi, seorang pelayan perempuan masuk dan melepaskan borgolnya, lalu memberikan sebuah jubah tidur untuk dipakai menutupi ketelanjangannya.

Andrea duduk dengan tidak nyaman di atas sofa, masih  memakai jubah tidur yang sama dan masih telanjang di baliknya.

Apakah dia akan telanjang seperti ini terus?

Andrea mengernyit, dia merasa amat sangat tidak nyaman sekaligus malu. Dalam benaknya dia bertanya-tanya, sampai kapan Christopher akan menyekapnya seperti ini? Akankah dia bisa bebas, ataukah Christopher, sang pembunuh kejam itu akan membunuhnya pada akhirnya?

Seorang pelayan lain masuk, membawa setumpuk handuk dan pakaian, dia lalu mendekati Andrea,

"Silahkan anda mandi."

Andrea amat sangat lega mendengar perkataan pelayan itu, tubuhnya sudah terasa lengket, dan dia ingin memakai baju yang normal, bukan jubah tidur kebesaran yang hanya berguna untuk menutupi ketelanjangannya.

Dengan langkah hati-hati dia mengikuti pelayan itu, sambil berharap meskipun pada akhirnya sedikit kecewa karena ternyata kamar mandi itu ada di dalam kamar yang luas itu menutup kemungkinan bagi Andrea untuk keluar dari kamar itu. Kamar mandi itu tersembunyi di balik pintu yang berfungsi ganda sebagai rak buku di dinding. Ketika rak buku itu dibuka layaknya sebuah pintu, maka dibaliknya ada ruangan kamar mandi yang sangat luas dengan dominasi marmer hitam yang elegan. Andrea mengernyit menatap kamar mandi itu. Kamar yang dia tempati sekarang terasa sangat maskulin dengan dominasi warna coklat kayu-kayuan perabotannya dan warna hitam untuk sprei ranjangnya, dan bahkan sekarang kamar mandinya lebih maskulin lagi. Semuanya marmer berwarna hitam.

Hiasan yang ada di sana hanyalah sebuah palem raksasa yang ada di sebuah sudut dekat jendela berkaca buram di dalam sebuah pot cokelat yang sangat indah, ada sebuah cermin yang sangat besar di sana, memanjang dari atap sampai ke lantai dan lebarnya hampir memenuhi dinding, cermin itu sekarang berkabut karena uap dari air panas yang memenuhi kolam mandi kecil yang juga terbuat dari marmer.

"Silahkan anda berendam dulu, saya sudah menyiapkan airnya." Sang pelayan setengah menghela Andrea ketika dia hanya berdiri dengan ragu menatap kolam mandi kecil berbentuk segi lima yang mengepulkan uap hangat nan menggiurkan. Seluruh tubuh Andrea terasa kaku, mengingat dia diborgol terentang sekian lamanya di ranjang. Mandi berendam terasa sangat menggoda untuknya sekarang.

Pelayan itupun meninggalkannya dan menutup pintu kamar mandi dari luar. Andrea melepas jubah tidurnya dan meninggalkannya begitu saja di lantai, dia melangkah pelan mendekati kolam mandi itu, dengan hati-hati mencelupkan kakinya ke sana. Hangatnya pas dan terasa menyenangkan. Andrea menenggelamkan kakinya semakin dalam, dan pada akhirnya melangkah memasuki kolam mandi itu.

Ketika dia berdiri, tinggi airnya hanyalah sebetisnya. Andrea lalu duduk bersandar di salah satu dinding kolam yang nyaman, membenamkan tubuhnya sampai sebatas leher. Dia telanjang bulat tetapi uap air hangat itu menyembunyikannya.

Andrea membasahi rambutnya dan bersandar lagi, lalu memejamkan mata, menikmati bagaimana air hangat itu melemaskan otot-ototnya yang tegang. Kemudian tanpa sadar dia teringat betapa kemarin, Christopher telah melumat buah dadanya...matanya terbuka dan dengan gugup dia membasuh buah dadanya, pipinya memerah berusaha mengusir bayangan bagaimana mulut Christopher menangkup buah dadanya, terasa membakar dan bagaimana kemudian lelaki itu menghisap dadanya...

Andrea memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha mengusir sensasi panas yang mulai merayapi tubuhnya karena bayangan terlarang yang tak mau pergi itu. Dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi itu dan mengawasinya. Ketika Andrea menyadarinya, semua sudah terlambat.

Di sana, berdiri di depannya, adalah Christopher Agnelli. Telanjang, dengan keindahan tubuh layaknya patung dewa- dewa Yunani...

Andrea terkesiap, dan langsung merapatkan paha telanjangnya dengan lengannya langsung menutup buah dadanya. Dia menatap marah kepada Christopher,

"Apa yang kau lakukan di sini?" Andrea membentak, ingin berteriak, tetapi yang berhasil dikeluarkannya hanyalah suara tercekik kecil, seperti tikus yang mencicit ketika terdesak oleh kucing besar yang lapar.

Christopher hanya berdiri di sana, tidak peduli dengan ketelanjangannya dan menatap Andrea dengan geli.

"Ini di kamar mandi, tentu saja aku akan...mandi..."

Selengkapnya | comments (30)

Walking Disaster Bab 3


wd-thumb
Ksatria Putih

Shepley berdiri di ambang pintu seperti orang idiot yang jatuh cinta, melambaikan tangan pada America saat keluar dari tempat parkir. Dia menutup pintu, lalu berbaring di atas kursi malas dengan senyuman konyol di wajahnya.

"Kau terlihat bodoh," aku berkata.

"Aku? Kau seharusnya melihat dirimu. Abby tidak sabar ingin segera keluar dari sini."

Aku merengut. Menurutku Abby tidak kelihatan terburu-buru, namun karena sekarang Shepley berkata demikian, mengingatkanku kalau dia memang jadi tidak banyak bicara ketika kami kembali ke apartemen. "Kau pikir begitu?"

Shepley tertawa, menggeliat di kursi lalu menaikkan ke atas tempat sandaran kakinya. "Dia membencimu. Menyerahlah."

"Dia tidak membenciku. Aku berhasil kencan dengannya—makan malam tadi."

Alis Shepley mengernyit. "Kencan? Trav. Apa yang sedang kau lakukan? Karena jika ini hanya sebuah permainan untukmu dan kau mengacaukannya, aku akan membunuhmu saat kau sedang tidur."

Aku terduduk di sofa lalu mengambil remote tv. "Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan, tapi aku tidak akan mengacaukannya."

Shepley terlihat bingung. Aku tidak akan membiarkannya melihat kalau aku sebingung dirinya.

"Aku tidak bercanda," dia berkata, sambil terus melihat ke layar tv. "Aku akan mencekikmu."

"Aku mendengarmu," bentakku. Semua perasaan—diluar—dari—elemenku membuatku sangat kesal, lalu aku harus menghadapi Pepe Le Pew (tokoh kartun sigung warner bros) di sana yang mengancam mati diriku. Shepley dengan perasaan suka pada America sangat mengganggu. Shepley yang sedang jatuh cinta hampir tidak dapat ditolerir.

"Ingat Anya?"

"Sekatang tidak seperti itu," jawab Shepley, jengkel. "Ini berbeda dengan Mare. Dialah orangnya."

"Kau tahu itu hanya dalam dua bulan?" tanyaku, meragukan.

"Aku mengetahuinya ketika aku pertama kali melihatnya."

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak suka kalau dia sedang seperti ini. Unicorn, kupu-kupu dan segala omong kosong keluar dari dirinya dan bentuk hati melayang di udara. Dia selalu berakhir dengan patah hati, dan kemudian aku harus memastikan dia tidak mati karena terlalu banyak minum selama enam bulan lamanya. Namun tampaknya America menyukai itu.

Terserah. Tidak akan ada seorang wanita pun yang dapat membuatku menangis dan bermabuk-mabukan karena kehilangannya. Jika mereka tidak tinggal, berarti mereka tidak layak.

Shepley berdiri lalu menggeliat, kemudian berjalan santai menuju kamarnya.

"Kau penuh omong kosong, Shep."

"Bagaimana kau tahu?" tanyanya.

Dia benar. Aku belum pernah jatuh cinta, namun aku tak dapat membayangkan itu akan mengubahku begitu besar.

Aku memutuskan untuk tidur juga. Aku membuka bajuku lalu berbaring di tempat tidur dengan gusar. Sesaat setelah kepalaku menyentuh bantal, aku memikirkan Abby. Percakapan kami berputar kembali kata demi kata di dalam pikiranku. Beberapa kali dia menunjukan kilatan perasaan tertarik. Dia tidak benar-benar membenciku, dan itu membuatku lebih tenang. Aku tidak bisa dibilang menyesal atas reputasiku, namun dia tidak mengharapkanku untuk berpura-pura. Wanita tidak membuatku gugup. Abby membuat perhatianku terbagi-bagi dan fokus pada saat yang sama. Gelisah namun santai. Kesal dan mendekati gamang. Aku tak pernah merasa seaneh ini tentang diriku. Sesuatu tentang perasaan itu membuatku ingin berada di dekatnya lebih sering.

Setelah dua jam memandangi langit-langit kamar, bertanya-tanya apakah aku akan bertemu dengannya esok hari, aku memutuskan untuk bangun dan mencari botol Jack Daniels'd di dapur.

Gelas sloki sudah bersih di dalam mesin cuci piring, dan aku mengeluarkan satu gelas lalu mengisinya hingga penuh. Setelah meminumnya habis, aku mengisinya lagi. Aku menenggaknya, kemudian menyimpan gelasnya di tempat cuci piring, lalu berbalik. Shepley sedang berdiri di ambang pintu kamarnya dengan seringai di wajahnya.

"Dan itupun dimulai."

"Aku ingin memotong silsilah keluarga kita saat namamu muncul di dalamnya."

Shepley tertawa satu kali lalu menutup pintu kamarnya.

Aku berjalan dengan tertatih menuju kamarku, kesal karena aku tidak dapat menyangkalnya.

***

Kuliah pagi hari tampak sangat lama, dan aku merasa sedikit muak pada diriku sendiri karena aku berlari ke kafetaria. Aku bahkan tak tahu pasti apakah Abby akan berada di sana.

Dan dia ada di sana.

Brazil duduk tepat di hadapannya, sambil berbincang-bincang dengan Shepley. Seringai muncul di wajahku, lalu aku menghela nafas, merasa lega dan pasrah karena fakta bahwa aku payah.

Wanita pekerja kafetaria mengisi nampanku dengan hanya-Tuhan-yang tahu apa-itu, lalu aku berjalan menuju meja, berdiri tepat di hadapan Abby.

"Kau menduduki tempatku, Brazil."

"Oh, apa dia salah satu gadismu, Trav?"

Abby menggelengkan kepalanya. "Sama sekali bukan."

Aku menunggu, lalu Brazil menuruti, membawa nampannya ke kursi yang kosong di ujung meja panjang.

"Apa kabarmu, Pidge?" tanyaku, menunggunya menyemburkan bisanya ke arahku. Aku sangat terkejut, dia tidak menunjukan tanda-tanda kemarahan.

"Apa itu?" dia menatap ke arah nampanku.

Aku melihat pada makanan yang mengeluarkan uap panas. Dia mengajakku bercakap-cakap. Dan itu pertanda baik lainnya. "Pekerja kafetaria membuatku takut. Aku tidak akan mengkritik keterampilan mereka dalam memasak."

Abby memperhatikanku mengaduk-aduk makanan dengan garpu mencari sesuatu yang dapat dimakan, namun kemudian terlihat teralihkan perhatiannya oleh bisikan orang-orang di sekitar kami. Tentu saja, merupakan hal yang baru bagi semua mahasiswa lain melihatku membuat keributan karena ingin duduk berhadapan dengan seseorang. Aku masih belum yakin mengapa aku melakukannya.

"Aah…ada tes biologi setelah makan siang." America menggerutu.

"Apa kau sudah belajar?" tanya Abby.

America mengerutkan hidungnya. "Ya Tuhan, tidak. Aku menghabiskan malamku meyakinkan pacarku kalau kau tidak akan tidur dengan Travis."

Shepley langsung merengut ketika ada yang membicarakan tentang percakapan pada malam sebelumnya.

Para pemain football yang duduk di ujung meja kami menjadi sedikit hening untuk mendengarkan percakapan kami, dan Abby duduk merosot di kursinya, sambil melotot ke arah America.

Dia merasa malu. Apapun alasannya, dia merasa malu karena semua perhatian yang tertuju padanya.

America mengacuhkan Abby dan menyenggol Shepley dengan bahunya, namun wajah merengutnya tidak juga hilang.

"Ya Tuhan, Shep. Kau begitu jatuh cinta, hah?" aku melempar sebungkus kecap padanya, mencoba untuk meningkatkan moodnya. Mahasiswa di sekitar kami mengalihkan perhatian mereka pada Shepley lalu pada America, mengharapkan sesuatu untuk diperbincangkan.

Shepley tidak menjawab, namun mata abu-abu Abby mengintip ke arahku dengan senyuman kecil. Aku sedang beruntung hari ini. Dia tidak akan dapat membenciku meskipun dia mencobanya. Aku tak tahu mengapa aku merasa khawatir. Itu bukan karena aku ingin berkencan dengannya atau apapun. Dia hanya terlihat seperti eksperimen platonis yang sempurna. Pada dasarnya dia gadis yang baik—walaupun sedikit pemarah—dan tidak membutuhkanku untuk menghancurkan rencana lima tahunnya. Jika dia memilikinya.

America mengusap-usap punggung Shepley. "Dia akan baik-baik saja. Dia hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mempercayai bahwa Abby kebal terhadap pesonamu."

"Aku belum berusaha untuk mempesonanya," kataku. Aku baru saja mulai, dan America sudah menenggelamkan kapal perangku. "Dia adalah temanku."

Abby menatap ke arah Shepley. "Sudah aku bilangkan. Kau tidak perlu khawatir."

Shepley menatap mata Abby, kemudian ekspresinya menjadi lebih lembut. Krisis sudah dihindari. Abby menyelamatkan keadaan.

Aku menunggu beberapa menit, memikirkan sesuatu untuk dikatakan. Aku ingin meminta Abby datang ke apartemen nanti, namun itu akan terlihat payah setelah komentar America. Sebuah ide brilian muncul di kepalaku, dan aku tidak ragu. "Apa kau sudah belajar?"

Abby merengut. "Tidak peduli sebanyak apapun belajar tidak akan membantuku dalam mata kuliah biologi. Itu bukanlah mata kuliah yang aku kuasai."

Aku berdiri, menunjuk ke arah pintu dengan kepalaku. "Ayo."

"Apa?"

"Ayo ambil catatanmu. Aku akan membantumu belajar."

"Travis…"

"Ayo berdiri, Pidge. Kau akan berhasil dalam tesmu."

Tiga detik berikutnya adalah tiga detik terlama dalam hidupku. Abby akhirnya berdiri. Dia melewati America lalu menarik rambutnya. " Sampai bertemu di kelas, Mare."

America tersenyum. "Aku akan sisakan tempat duduk untukmu. Aku membutuhkan semua bantuan yang bisa kudapatkan."

Aku menahan pintu agar terbuka untuknya saat kami meninggalkan kafetaria, namun tampaknya dia tidak menyadarinya. Sekali lagi, aku merasa sangat kecewa.

Memasukan tangan ke dalam sakuku, aku menjaga kecepatanku agar tetap sama dengannya selama perjalanan singkat kami ke Morgan Hall, dan kemudian aku memperhatikannya bergerak dengan gelisah saat membuka kunci pintunya.

Abby akhirnya mendorong pintu hingga terbuka, lalu melemparkan buku biologinya ke atas tempat tidur. Dia terduduk di lantai dan menyilangkan kakinya, lalu aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, menyadari betapa keras dan tidak nyamannya tempat tidur ini. Pantas saja semua gadis di sekolah ini cepat marah. Mereka tidak mungkin beristirahat dengan benar di atas kasur ini. Ya Tuhan.

Abby membuka buku catatannya mencari halaman yang tepat, dan aku mulai belajar. Kami membahas semua poin penting dalam bab itu. Terasa menyenangkan karena cara dia menatapku saat aku sedang bicara. Dia hampir seperti sedang menghafalkan setiap kata sekaligus merasa kagum karena aku tahu banyak. Beberapa kali aku dapat mengetahui dari ekspresinya kalau dia tidak paham, sehingga aku mengulangnya, dan kemudian matanya akan menjadi lebih berbinar. Aku mulai berusaha lebih keras agar selalu melihat ekspresi senang di wajahnya setelah itu.

Sebelum aku menyadarinya, sudah waktunya untuknya pergi ke kelasnya. Aku menghela nafas, kemudian menepuk kepalanya dengan pelan menggunakan buku panduan belajarnya.

"Kau pasti bisa. Kau sudah menghafal buku panduan belajar ini dari awal hingga akhir."

"Well…kita lihat saja nanti."

"Aku akan mengantarmu ke kelas. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan sepanjang perjalanan." Aku menunggu penolakan halusnya, namun dia justru memberiku senyuman kecil dan mengangguk.

Kami berjalan menuju lorong, dan dia menghela nafas. "Kau tak akan marah kan bila aku gagal dalam tes ini?"

Dia merasa takut kalau aku akan marah padanya? Aku tidak yakin harus berpikir apa mengenai hal itu, namun itu terasa sangat menyenangkan.

"Kau tidak akan gagal, Pidge. Tapi kita harus mulai belajar lebih awal lain kali," aku berkata, sambil berjalan bersamanya menuju gedung sains. Aku menanyakan beberapa pertanyaan. Dia menjawab beberapa dengan cepat, beberapa lagi dengan ragu, namun jawabannya semua benar.

Kami tiba di depan pintu kelasnya, dan aku dapat melihat rasa terima kasih di wajahnya. Namun dia terlalu angkuh untuk mengakuinya.

"Semoga berhasil." aku berkata, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Parker Hayes melintas dan mengangguk. "Hai, Trav."

Aku benci bajingan itu. "Parker," kataku, balas mengangguk.

Parker adalah salah satu pria yang suka mengikutiku kemana-mana lalu menggunakan status ksatria putihnya (pria baik-baik) agar dapat bercinta. Dia menganggapku mata keranjang, namun sebenarnya adalah, Parker justru memainkan permainan yang lebih mutakhir. Dia tidak mengakui semua penaklukannya. Dia berpura-pura peduli lalu meninggalkannya dengan perlahan.

Pada suatu malam saat tahun pertama kami kuliah, aku mengajak Janet Littleton pulang dari Red Door ke apartemenku. Parker sedang merayu teman Janet. Kami berpisah di klub, setelah aku meniduri Janet dan tidak berpura-pura menginginkan suatu hubungan setelahnya, dia dengan marah menghubungi temannya agar menjemputnya. Dan temannya itu masih bersama Parker, sehingga akhirnya dia yang mengantar Janet pulang.

Setelah itu, Parker memiliki satu cerita baru yang dapat dia ceritakan pada semua wanita yang dia taklukan. Gadis manapun yang aku tiduri, dia selalu menampung mereka setelahnya dengan menceritakan ketika dia menyelamatkan Janet.

Aku mentolerirnya, hanya sebatas itu.

Mata Parker menatap Pigeon dan langsung berbinar. "Hai, Abby."

Aku tidak mengerti mengapa Parker bersikeras untuk membuktikan kalau dia bisa mendapatkan gadis yang sama denganku, lagipula dia sekelas dengan Abby sudah beberapa minggu namun baru sekarang dia menunjukan rasa tertariknya. Mengetahui itu hanya karena dia melihat Abby bicara denganku membuatku sangat marah.

"Hai." jawab Abby, terkejut. Dia jelas tidak tahu mengapa tiba-tiba Parker menyapanya. Itu terlihat di wajahnya. "Siapa itu?" dia bertanya padaku.

Aku mengangkat bahuku dengan santai, padahal aku ingin berlari melintasi ruangan dan memukuli Parker. "Parker Hayes." jawabku. Namanya terasa tidak enak di mulutku. "Dia salah satu temanku di Sig Tau." Itu membuat rasa tidak enak juga. Aku memiliki saudara, baik di perkumpulan maupun saudara kandung. Parker tidak termasuk dalam keduanya. Dia lebih seperti musuh besar yang kau jaga agar tetap berada di dekat denganmu sehingga kau bisa mengawasinya.

"Kau bergabung dalam frat (perkumpulan persaudaraan mahasiswa)?" tanyanya, hidung kecilnya menjadi sedikit berkerut.

"Sigma Tau, sama dengan Shep. Kupikir kau tahu."

"Well…kau tidak terlihat seperti…tipe orang yang bergabung dalam frat," dia berkata, sambil melihat ke arah tato di lengan atasku.

Fakta bahwa mata Abby kembali menatapku membuatku langsung merasa lebih baik. "Ayahku dulu anggota Sig Tau, begitu juga semua kakakku. Sudah seperti tradisi di keluargaku."

"Dan mereka mengharapkanmu untuk ikut bersumpah?" tanyanya, skeptik.

"Tidak juga. Mereka orang-orang baik," jawabku, membolak-balik makalahnya. Aku menyerahkan makalah itu padanya. "Sebaiknya kau masuk kelas sekarang."

Dia memberiku senyuman tanpa cela itu. "Terima kasih sudah membantuku." Dia menyikutku, dan aku tidak dapat menahan selain membalas senyumannya.

Dia berjalan masuk ke dalam kelas lalu duduk di samping America. Parker sedang memandanginya, memperhatikan kedua gadis itu mengobrol. Aku berfantasi mengangkat sebuah meja lalu melemparkannya ke arah kepala Parker saat aku berjalan di lorong. Karena tidak ada kuliah lagi hari ini, tak ada alasan bagiku untuk tetap di kampus. Perjalanan jauh sambil mengendarai motor akan membantu menjauhkan pikiran tentang Parker melakukan hal tidak senonoh terhadap Abby yang baik sehingga tidak membuatku gila, maka aku memastikan mengambil jalan terjauh untuk pulang agar memberiku waktu berpikir. Beberapa mahasiswi yang pernah aku tiduri di sofa melintas di jalanku, namun wajah Abby selalu muncul di dalam pikiranku—begitu seringnya sehingga membuatku mulai merasa terganggu.

Aku terkenal sebagai orang yang brengsek oleh setiap gadis yang berumur diatas enam belas tahun yang aku ajak bicara secara pribadi—sejak aku berumur limabelas tahun. Cerita kami mungkin hampir sama: Bad boy menyukai gadis baik-baik, namun Abby bukanlah seorang putri. Dia menyembunyikan sesuatu. Mungkin itu yang menghubungkan kami: apapun itu yang dia tinggalkan di belakang.

Aku memasuki tempat parkir apartemen lalu turun dari motor. Berpikir di atas motor juga tidak dapat membantu. Semua yang telah aku uraikan di kepalaku tidaklah masuk akal. Aku hanya sedang mencari-cari alasan terhadap obsesi anehku padanya.

Tiba-tiba berada dalam suasana hati yang buruk, aku membanting pintu di belakangku lalu duduk di sofa, dan jadi semakin kesal ketika aku tak dapat menemukan remote tv.

Plastik hitam mendarat di sampingku saat Shepley lewat untuk duduk di atas kursi malas. Aku mengambil remote itu lalu mengarahkannya ke tv, menyalakannya.

"Kenapa kau membawa remote tv ke kamarmu? Kau harus membawanya kembali kesini." bentakku.

"Aku tak tahu, sobat, hanya kebiasaan. Kau kenapa?"

"Aku tak tahu," gerutuku, memindah-mindahkan channel tv. Aku menekan tombol mute. "Abby Abernathy."

Alis Shepley mengangkat. "Kenapa dia?"

"Dia mulai menggangguku. Kupikir aku hanya perlu meniduri dia lalu mengakhirinya."

Shepley menatapku beberapa saat, ragu. "Bukannya aku tidak menghargaimu karena tidak mengacaukan hidupku dengan menahan diri dari obsesimu, tapi kau tak pernah membutuhkan izinku sebelumnya…kecuali…jangan bilang kau akhirnya peduli tentang seseorang."

"Jangan jadi orang yang menyebalkan."

Shepley tak dapat menahan seringainya. "Kau peduli padanya. Ternyata hanya butuh seorang gadis yang menolak untuk tidur denganmu selama lebih dari duapuluh empat jam agar kau peduli pada seseorang."

"Laura membuatku menunggu selama satu minggu."

"Abby tidak memberitahumu kapan kan?"

"Dia hanya ingin berteman. Kurasa aku beruntung dia tidak memperlakukanku seperti orang penderita kusta."

Setelah beberapa saat dalam keheningan yang canggung, Shepley akhirnya mengangguk. "Kau merasa takut."

"Takut pada apa?" tanyaku dengan seringai ragu.

"Penolakan. Mad Dog ternyata orang biasa."

Mataku berkedut. "Kau tahu aku sangat tidak menyukai nama itu, Shep."

Shepley tersenyum. "Aku tahu. Hampir sebesar rasa tidak sukamu terhadap apa yang kau rasakan saat ini."

"Kau tidak membuatku merasa lebih baik."

"Jadi kau menyukainya dan kau merasa takut. Lalu bagaimana?"

"Entahlah. Hanya saja itu menyebalkan karena akhirnya aku menemukan gadis yang layak untuk dimiliki tapi dia terlalu baik untukku."

Shepley berusaha menahan tawanya. Itu menggangguku karena dia merasa sangat senang atas kesulitanku. Dia menghapus senyumannya lalu berkata, "Mengapa kau tidak membiarkan dia yang memutuskannya sendiri?"

"Karena aku terlalu peduli padanya sehingga membuatku mengambil keputusan untuknya."

Shepley menggeliat lalu berdiri, kaki telanjangnya diseret melintasi karpet. "Kau mau minum bir?"

"Ya. Mari kita bersulang untuk hubungan pertemanan."

"Jadi kau akan tetap berteman dengannya? Kenapa? Bagiku itu terdengar seperti sebuah siksaan."

Aku berpikir beberapa saat. Itu memang terdengar seperti siksaan, namun tidak seburuk dengan hanya memperhatikannya dari jauh. "Aku tidak ingin dia berakhir bersamaku…atau bajingan lainnya."

"Maksudmu atau orang lain. Sobat, itu sinting."

"Ambilkan saja bir-ku dan tutup mulutmu."

Shepley mengangkat bahunya. Tidak seperti Jenks, Shepley tahu kapan harus berhenti bicara.

***

Penerjemah: +Cuma Oseu
Edit: +portalnovel
Selengkapnya | comments (8)

The Rocker That Holds Me Bab 3


the-rocker-thumb
Aku tidak pernah menjadi penyuka muntah. Aku telah membersihkan lebih banyak muntahan orang lain daripada diriku sendiri selama bertahun-tahun. Sebagian besar muntahan ibuku, dalam beberapa tahun terakhir ini para priaku – terutama Drake. Tapi aku sendiri? Aku hanya melakukannya beberapa kali seumur hidupku.

Pagi ini adalah salah satunya.

Aku tahu bahwa aku takkan bisa menahannya secepat mungkin saat aku turun dari tempat tidur. Perutku memberiku peringatan dua detik sebelum aku mencoba untuk melompat dari tempat tidur. Aku melakukannya di ujung tempat tidur sebelum aku membersihkan semua sedikit makanan yang aku paksakan untuk ditelan sehari sebelumnya. Baunya sangat tidak mengenakan daripada melihatnya.

Secepatnya ketika aku bisa sedikit menguasai refleks mualku aku berlari ke dalam toilet sehingga aku bisa menyelesaikannya. Rambutku menghalangi pandanganku dan aku memuntahi rambutku juga sebelum aku bisa menyingkirkannya dari wajahku. Baunya membuatku mual dan aku muntah sampai aku kehabisan nafas. Air mata bercucuran di wajahku, alisku berkeringat dan perutku terasa bergulung.

Aku berdoa kepada setiap Tuhan yang kuketahui dan memohon ampun. Tidak ada yang terjadi. Bahkan aku harus memaksa diriku untuk berdiri sendiri pada kakiku yang goyah dan memegang mulutku dibawah kran air sampai aku bisa menghilangkan sebagian besar rasa pahit di dalam mulutku. Aku ingin mandi tetapi pertama aku harus membersihkan kekacauan di kamar tidur sebelum aku melakukannya.

Ketika akhirnya aku mandi aku merasa lebih baik setelahnya. Tetapi aku terlambat sehingga tetap membiarkan rambutku basah dan tergesa-gesa berpakaian sebelum membangunkan para priaku.

Aku tidak terkejut ketika menemukan Shane masih diselimuti gadis-gadis ketika aku membuka pintu kamar hotelnya. Aroma seks didalam ruangan sangat kental membuat perutku protes, tetapi aku menelan rasa pahit di mulutku dan menyeretnya keluar dari bawah ketiga gadis. Tanganku mengepal di rambutnya dan aku menyentakknya sampai ia berdiri. "Cepat mandi!" perintahku, sedang tidak ingin berurusan dengan para gadis nakal setelah mengalami pagi seperti tadi. "Aku memberikan ceramah pada adikmu tentang hal ini, tetapi ternyata kau yang harus aku urus pagi ini."

"Emmie!" Shane protes ketika aku memaksanya berjalan pancuran air berdiri dan memutar air dingin dengan kekuatan penuh. "Sialan!"

"Turun ke lantai bawah dalam sepuluh menit!" Aku berteriak padanya sebelum membanting pintu kamar mandi di belakangku. Para pelacur di tempat tidur terbangun dan aku membelalak jijik pada mereka.  "Ambil baju kalian dan keluar. Kalian mempunyai waktu dua menit sebelum keamanan melemparkanmu keluar, berpakaian atau telanjang. Aku tidak perduli."

Jesse masih tidur ketika aku berjalan ke dalam kamarnya. Aroma seks masih tertinggal di dalam kamar tetapi dia sendirian di tempat tidur. Aku bahkan tidak mencoba membangunkannya dengan lembut. Aku mengisi air ke dalam gelas dan membuangnya ke kepalanya. "Aku bangun. Aku bangun." Dia megap-megap.

"Bagus." Aku membentak lalu meninggalkannya untuk bersiap.

Aku terkejut menemukan Nik sudah bangun. Ketika aku meletakkan kunciku di pintunya ternyata sudah terbuka. Dia sudah berpakaian. Rambutnya tebal sudah tertata. Seperti biasa melihatnya aku merasakan sakit di tempat yang tidak seharusnya sakit. Dahinya berkerut khawatir saat melihatku."Emmie. Merasa lebih baik, baby girl?"

Berlari kesana kemari membuatku pusing dan perutku masih protes. Tetapi aku tidak ingin berdebat dengannya. Jika dia tahu aku sakit dia akan memaksaku untuk pergi ke dokter. Tidak akan terjadi. "Terimakasih sudah bangun." Gumamku.

"Em..." Dia memanggil pelan ketika aku meninggalkannya.

Aku mengabaikannya dan melangkah ke lift dan pergi ke lantai atas. Kamar Drake berbau keringat, minuman keras dan seks. Tapi untungnya gadis atau beberapa gadis mengingat jumlah bungkus kondom di atas lantai di samping tempat tidur lenyap. Dia sepertinya sudah bangun ketika aku masuk ke dalam. Tentu saja karena kepalanya ada di dalam toilet. Suara muntahannya membuat reflek muntahku bereaksi dan aku muntah ke dalam wastafel. Cairan pahit hijau adalah semua yang dapat kuhasilkan dan aku memutar keran air sehingga aku dapat menelan beberapa tegukan air. Setidaknya sekarang aku mempunyai sesuatu untuk di keluarkan.

Tangan Drake yang berkeringat menyentuh punggungku. "Em?" Suaranya parau memanggil namaku dan aku melihat sekilas kepadanya, menyeka keringat dari atas bibirku. "Kau tidak apa-apa?"

Aku memberinya senyum lemah. "Sepertinya kita berdua mengalami pagi yang buruk." Gumamku.

Dia mengerang saat berdiri. Pantatnya telanjang tapi tak ada satupun dari kami perduli. Aku telah melihat setiap inci dari tubuh para priaku. Tidak ada yang memalukan dari bagian tubuh kami.… Tidak ada satupun yang mengedipkan mata ketika kami melihat satu sama lain telanjang. Oke  mungkin aku mengedipkan mata sekali atau dua ketika aku melihat Nik telanjang, tapi aku tidak akan membiarkan mereka tahu. "Kau tidak pernah sakit."

Aku mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatikan. Pergi mandi, oke?" Dia mengangguk dan aku berbalik pergi. "Sikat gigimu." Aku mengingatkannya.

***

Sepuluh menit kemudian mereka telah duduk di sofa panjang di ruang pertemuan. Hidangan makanan pagi telah disiapkan. Aku mencoba bernafas melalui mulutku untuk mengatasi aroma yang tidak mengenakan. Biasanya aku akan menyiapkan sepiring makanan dan secangkir kopi, tetapi pagi ini aku rasa aku tidak bisa berurusan dengan itu dan tidak muntah. Untungnya tidak ada satupun dari mereka perduli bahwa aku tidak menyiapkan segala kebutuhan mereka.

Wartawan dari majalah Rock America telah mulai mengajukan pertanyaan pada mereka. Kurus dengan kacamata tebal dan suara sengau membuatku saraf bawahku merinding mendengar setiap perkataan yang diucapkan dari mulutnya, aku heran bagaimana laki-laki seperti ini bisa menjadi wartawan di dunia musik rock. Mungkin mempunyai seseorang ayah orang penting. Aku tidak yakin dan aku tidak perduli.

Dia seseorang yang ingin mengetahui apa yang juga ingin diketahui semua fans Demon Wings. Bagaimana mereka bertemu? Apa makna signifikan dari nama band? Apa yang mereka lakukan saat musim panas? Kapan mereka akan membuat album baru?

Seperti yang selalu mereka lakukan mereka tidak pernah menjawab dua pertanyaan pertama dari orang tersebut-tidak ada yang tahu dari mana mereka berasal atau bagaimana kehidupan mereka sebelum terkenal;  kebanyakan merupakan bentuk perlindungan mereka padaku karena gaya hidup ibuku yang tidak menyenangkan walaupun kehidupan masa kecil mereka juga tidak begitu bahagia. Tetapi mereka selalu menceritakan secara detil tentang musim panas dan lagu-lagu baru yang Nik sedang  kerjakan untuk album mereka selanjutnya. Sejam kemudian lelaki itu berdiri dan pergi. Setelah berjabat tangan dengan semua orang dia berbalik padaku. "Jadi bagaimana rasanya kamu bekerja untuk Demon Wings?"

"Emmie bukan pembantu." Jesse memberitahu pria itu, yang mana kami semua sudah tahu bahwa pria itu sudah mengetahuinya.

"Wawancaramu telah selesai."

Nada peringatan tegas dan jelas dari suara sang drumer dan membuat wartawan itu segera kabur. Jesse bisa mejadi si ’kepala panas’, mudah marah dalam satu waktu dan cepat melayangkan sebuah tinju. Aku harus menjamin dia untuk keluar beberapa kali dari penjara karena ia terlibat perkelahian.

Aku menunggu beberapa saat untuk memastikan pria itu pergi sebelum aku berhadapan dengan mereka. "Aku ingin meminta maaf karena bersikap mengesalkan kemarin dan pagi ini."  Aku mengatakan pada mereka, penuh penyesalan. Aku tidak sering bersikap mengesalkan pada para priaku. Sejujurnya aku bisa menjadi seorang ratu jahat jika aku mau, tetapi bukan pada mereka.

"Duduk, Em." Jesse memerintahkan padaku. Ketika aku hanya berdiri, dia menarik tanganku dan mendorongku ke sofa diantara dia dan Nik. "Kita perlu bicara."

Aku menggigit bibirku, takut jika mereka membuatku pergi ke dokter. Atau berteriak padaku. Dari kedua pilihan aku pikir aku memilih diteriaki, tapi keduanya tetap akan membuatku menangis. Tangan Nik membungkus disekitar pundakku, jarinya bermain di ujung rambutku yang masih basah. Ini menenangkan dan hanya dengan berada didekatnya membuatku aman dan dicintai. "Emmie, kami bisa melihat jika kau mulai lelah. Ini tidak apa-apa. Kita semua seperti itu. Itu sebabnya kami memutuskan berlibur di musim panas."

"Aku sudah tahu bahwa kau merencanakan liburan musim panas ini." Aku memutar mataku padanya. "Rich menelponku kemarin malam." Aku mengatakan padanya ketika ia terlihat bingung. "Kita akan tur bersama Axton dan tur Otherworld dimulai bulan September."

"Rich sialan." Jesse bergumam. "Kami ingin mengejutkanmu."

"Ngomong-ngomong...Kami berfikir untung menyewa sebuah rumah di suatu tempat. Tetapi kami pikir kau yang ingin memilihnya." Nik tersenyum padaku, senyumnya selalu membuatku hatiku nyeri untuk sesuatu yang tidak mungkin aku miliki. "Dimanapun di dunia ini yang kamu inginkan, Em. Pilih sebuah tempat, temukan sebuah rumah untuk kita dan dimana kami bisa menghabiskan musim panas kita."

Daguku bergetar. Aku lega mereka tidak berteriak, bahwa aku tidak dikhianati Drake mengadukan keadaanku tadi pada yang lain dan mereka tidak memaksaku untuk pergi ke dokter. Jadi kenapa tiba-tiba aku terisak-isak?

***

Penerjemah: Faye Adams
Editor: +Ertika Sani
Selengkapnya | comments (7)

Rose at the Second Sight Bab 8

18 Mei 2013


rose-thumb
Bagai Air di Daun Talas

Keesokan harinya, setelah pertengkaran dan pengakuan cacatku kepada mama, papa mengajakku berbicara panjang lebar. Pembicaraan antara dua orang laki-laki dewasa. Menggali kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bisa ditempuh, mencari-cari celah bagaimana bisa membantuku mengatasi masalahku, bertukar pikiran tentang usaha keluarga yang harus selamanya dipertahankan demi leluhur, demi nama baik, demi masa depan, demi prestise, demi kelangsungan hidup…

Aku dan Liana dipanggil Papa dan Mama, beberapa minggu setelah pembicaraan Man to Man antara Papa dan aku.

Kugenggam erat tangan Liana, kutarik dia agar duduk disebelahku.

"Ada apa, Ma?" tanyaku.

"Mama sudah menceritakan masalah kalian ke Papa. Kami sudah berpikir keras beberapa waktu ini - bagaimana menyelesaikan masalah kalian berdua…" Mama membuka percakapan.

"Masalah utamanya adalah Benny nggak bisa menghasilkan keturunan..." Mama berkata dengan nada penuh misteri.

Semua terdiam.

"Sedangkan hal ini sangat perlu untuk kelanjutan marga Setiawan dan penerus usaha keluarga." mama melanjutkan.

"Sudahlah Ma...ini sudah ditakdirkan oleh Yang Di Atas, kita terima saja kondisi ini..." perasaanku mengatakan sesuatu yang gawat akan terjadi setelah ini.

"Ooo nggak bisa, Ben, semua masalah ada jalan keluarnya. Sekarang nggak mungkin kamu mencari istri lagi…" kata mama dengan sengak.

Aku genggam jemari Liana lebih ketat, aku memerlukan dukungannya.

"Toh hasilnya akan sama saja, nggak akan ada bayi. Apa yang harus dilakukan?" lanjutnya lagi.

"Kami bisa angkat anak dari panti asuhan, Ma…" Aku menjawab, Liana balik meremas tanganku lembut, aku yakin Liana setuju dengan ide dadakanku ini.

"Ooo nggak bisaaa...penerus Setiawan harus dari bibit-bebet-bobot yang jelas!" katanya tegas. Aku menelan ludah. Kata-kata ‘sakti’ mama.

"Mama sudah nge-cek dan konsul dengan rumah sakit bersalin, cara paling pas untuk masalah kalian berdua hanya dengan Inseminasi buatan..." lanjutnya.

Aku dan Liana saling berpandangan. Masuk akal. Aku pernah baca artikelnya, Inseminasi buatan berarti bantuan reproduksi, dimana sperma disuntikkan dengan kateter ke dalam vagina atau rahim pada saat calon ibu mengalami ovulasi.

"Berarti spermanya dari bank sperma, dong, Ma?" tanyaku dengan rasa tertarik, karena cerita mama sangat masuk akal bagiku.

"Siapa yang ngomongin bank sperma? Sperma orang nggak jelas gitu! Mau miara calon srigala di rumah ini?" mama tiba-tiba menjawab dengan sinis.

"Lalu?.." aku bertanya dengan bingung.

"Melalui inseminasi buatan itu, Liana akan mendapatkan sperma dari papa kamu!" mama berkata dengan nada puas!

Aku terbelalak kaget! Tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar! Sperma ayah kandungku untuk istriku sendiri??

Tidak ada se-mikro pun logikaku yang bisa menerima teori ini!

"SAYA TIDAK MAU!" tiba-tiba Liana berteriak sangat kencang! Wajahnya sangat pucat! Aku sudah menyangka istriku tidak akan menerima usulan yang sekilas terdengar seperti sebuah pemerkosaan.

Liana melepaskan pegangan tangannya dariku. Dia berlari ke kamar, aku langsung menyusulnya dengan langkah lebar, tidak kuhiraukan papa dan mama yang hanya diam mematung melihat kami berdua.

Liana menangis, berbaring telungkup diatas ranjang kami.

Aku mendekati istriku…

Kuusap punggungnya dengan tanganku, kupeluk tubuhnya hingga kami berdua pulas tertidur...raga yang lelah…dan jiwa yang letih…

###

Aku membaca email dari Miss Lolita. Dia baru pulang dari New York, setelah menghadiri sebuah meeting perdana dengan buyer pemegang brand terkenal FY&S - Fresh, Young & Sexy.

Miss Lolita berhasil mendapatkan setengah dari total forecast mereka. Ada 36 styles untuk program season Fall/Winter. Buyer meminta Salesman sample, 24 pieces setiap stylenya. Salesman sample ini akan mereka bagian kepada orang marketing mereka yang tersebar di setiap negara bagian. Para Marketing akan menawarkan kepada setiap toko retail.

Miss Lolita menawariku untuk datang ke kantornya di Singapura, mendapatkan kesempatan pertama untuk memilih style-style yang sekiranya lebih mudah untuk dikerjakan di pabrikku.

Aku tersenyum, aku langsung membalas emailnya.

Re: FY&S Fall/Winter - Salesman Sample Meeting

"Dear Miss Lolita,

It's my honour to come to your office for the Fall/Winter Salesman Sample Meeting , on next Tuesday.

Triska will join me for this meeting.

See you there soon, mam!"

Best Regards,
Benny

Aku tekan extension telpon Triska, menyuruhnya membaca email yang tadi ku copy ke email dia juga. Menyuruhnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Triska mengiyakan perintahku.

Baru saja aku menutup telponku, Papa dan Mama masuk ke ruanganku.

Aku tercengang melihat mereka berdua! Kejadian langka melihat kedua orangtuaku datang ke kantorku seperti ini.

"Pa…Ma…kok tumben?" tanyaku sambil berdiri dan duduk di sofa. Mereka mengikutiku.

Mama menarik nafas panjang, begitu badannya terhempas di sofa single di sisiku.

Papa duduk di sofa panjang di depanku.

"Sengaja Papa dan Mama kesini, Ben…biar lebih leluasa ngobrol…Kalau didengar istrimu takutnya nanti dia tersinggung lagi…" jawab Papa.

Aku langsung menegakkan badanku, waspada. Cara Papa mengucapkan kalimat itu menunjukkan akan adanya kontra terhadap sikap penolakan Liana kemarin.

"Benny…kamu lihat, kan, perusahaan kita ini! Kalau tidak ada anak dari kamu, siapa yang akan menjadi penerusnya?" nada papa  mulai langsung menekanku.

"Tapi, Pa…" aku berusaha menyangga.

"Apa kata leluhur kita, kalau kamu, generasi ke 4, pendiri perusahaan ini menghancurkan semua yang sudah mereka bangun dengan susah payah?!?" kata mama memotong tajam.

"Mau diletakkan dimana muka Papa dan Mama, Benny! Rahasia ini lama-kelamaan akan terbongkar! Akan menjadi konsumsi publik! Bahan omongan!" sambung mama lagi.

Aku menunduk, kepalaku terasa berdenyut…pusing!

"Sekarang kamu lihat perusahaan ini. Berapa ratus karyawan yang menggantungkan kehidupan keluarganya pada kita, Ben?? 500an orang kepala keluarga lebih! 600 an mungkin!" kata papa.

"Jadi apa mau Papa Mama?" tanyaku lemas. Mataku terasa berkunang-kunang.

"Suruh istri kamu mematuhi keinginan keluarga ini!" jawab mama cepat.

"Penolakan istri kamu aneh bagi papa dan mama. Terus terang papa tersinggung, istri kamu bersikap seperti itu kemarin! Papa bukannya mau memperkosa istri kamu! Justru Papa mau menolong kalian!" kata papa lagi, wajahnya terlihat memerah kesal.

Aku menunduk…

Pilihan yang sangat sulit bagiku:

Liana,

atau

keluarga dan perusahaan?
...
...
1 orang melawan 500 lebih orang??
   
Aku mengusap wajahku dengan telapak tanganku.

"Mama yakin, anak mama ini pasti sayang keluarga...kamu masih menyayangi kami sebagai orangtua kamu, kan, Ben?" kata mama lembut sembari mengusap kepalaku. Aku trenyuh.

"Tentu saja Benny sayang banget sama papa mama…" jawabku terpojok. Mama memeluk bahuku, mencium kepalaku.

Aku terdiam, labirin hidupku makin rumit...beberapa waktu lalu sudah kurasakan adanya pintu keluar yang bisa membawa diriku keluar dengan selamat…kini aku sudah ada di tengah-tengah labirin lagi, dengan pintu jebakan yang bisa membuatku tak berdaya...

"Papa dan Mama juga sangat menyayangi kamu, Benny...kamu adalah harapan kami satu-satunya..." kata mama lagi.

Aku menatap  wajah kedua orangtuaku. Keriput di wajah mereka, kerentaan, dan penyerahan raga fana atas usia senja semakin terlihat. Dua orang yang dipercayakan oleh Sang Pemilik Cakrawala untuk memelihara titipanNya di dunia ini – yaitu diriku…

Buah simalakama berderet disepanjang jejak kakiku,
Dan disepanjang tanda takdir dihadapanku…
Tak kumakan, jiwaku akan hilang bersama dengan dosa,
Kumakan, hatiku hilang bersama dengan resah.

Tak adakah yang lebih sederhana dari ini,
Agar aku tak usah berkecil hati,
Ketika aku harus memilih,
Karena hatiku bukan untuk menyakiti

Pernah kuberbincang dengan sang teman,
Apa arti pasangan dan persaudaraan,
Katanya hanya ada satu jawaban,
Persamaan darah yang mengalir adalah kartu mati sebuah pengorbanan!

Mataku terasa panas.

"Nanti Benny coba ngomong lagi sama Liana…" kataku, menyerah…pada ikatan darah…

Mereka tersenyum padaku.

"Papa tahu kamu adalah anak baik Benny. Kamu anak yang bisa menyenangkan kami disaat usia senja seperti sekarang ini!" puji papa.

"Ya sudah, Mama dan Papa pulang dulu…kami sudah tenang sekarang...biarpun ajal menjemput, kami sudah rela saat ini…" mama berdiri dan mengucapkan kalimat pamungkasnya...  lalu keluar dari ruanganku diikuti papa.

Aku kembali ke mejaku. Hatiku merasa sangat kacau.

Kucari Troll…hanya Troll yang  bisa memberiku ketenangan…aku butuh dia!!!

"Troll…" panggilku.

"Dan…" respon Troll

"Sebuah belati telah disodorkan ke leherku..." kataku.

"What's wrong, Dan? Tell me dear..." tanya Troll lembut.

Aku mengusap air mata yang mengambang.

"Orang tuaku menekanku agar aku bisa memaksa Liana menerima sperma papa di rahimnya, menjadi anakku…aku harus bagaimana, Troll?" tanyaku.

Troll terdiam untuk beberapa saat.

"Aku nggak tahu, Dan. Kalau aku di posisi Liana, apakah aku akan menerima usulan seperti itu atau tidak? Semua kembali ke diri kamu sendiri dan istri kamu. Ini seperti makan buah simalakama…dimakan emak mati, tidak dimakan bapak mati…" kata Troll bijak.

Salah Troll, kataku dalam hati, dimakan orangtua mati, tidak dimakan istri mati...

"Iya...aku bingung...tapi biarlah waktu yang akan menentukan, Troll. Aku nggak akan ngomong apapun ke Liana..." kataku dengan helaan nafas berat.

"Waktu bak pisau bermata dua,

Ketika kau menyerahkan semuanya kepada sang waktu,
Kau mungkin akan terlena dengan ayunannya…
Ketika kau dengan gigih melawan sang waktu,
Kau mungkin akan terjengkang oleh hempasannya!

Cinta dan waktu mungkin sejalan,
Tapi cinta tidak mengenal waktu,
Dan waktu tidak mengenal cinta.
Letakkan saja mereka seiring dihatimu…"

Aku tersenyum membaca kalimat puitis Troll. Troll mengajariku untuk menjadi peka, bertindak dan berlaku tepat pada waktunya. Tidak terlambat dan tidak pula terlalu cepat…

Entah bagaimana caranya…teori  selalu terdengar gampang...

"Eh, kista kamu bagaimana, Troll? Udah ke dokter lain?" tanyaku tiba-tiba teringat dengan kondisi dia. Hal lain ini yang menguras energi dan pikiranku akhir-akhir ini.

"Udah, aku ke rumah sakit yang lain…diagnosa yang sama, kista diameter 8 senti, di indung telur – Ovarium sebelah kiri…" jawab Troll.

"Terus?" kejarku

"Harus diangkat Dan, tapi selama tidak hamil, ya...sebenarnya nggak apa-apa sih…" kata Troll ringan.

Aku terhenyak, ada emosi meningkat tiba-tiba dikepalaku, menangkap ada rasa ketidakpedulian Troll pada penyakitnya.

"Nggak apa-apa bagaimana?! Kamu mau menunggu kista itu bagaimana-bagaimana setelah kamu hamil??? Unbelievable!" kataku kesal.

"Hah?? " Troll bereaksi bingung atas kekesalanku.

"Aku nggak mau tahu, Troll, kamu harus operasi secepatnya! Buang kista itu! Jangan tunggu sampai semuanya telat!" teriakku jengkel.

"Kok kamu marah, Dan?" tanya Troll heran.

Aku terdiam. Menatap layar monitor dengan bingung. Mengapa aku harus marah?

Aku hempaskan keras badanku ke kursi. Berusaha mengurangi emosiku, tapi tidak bisa...aku merasa panik! Panik karena??

Dibahu kananku Liana mengulurkan tangannya butuh perlindunganku, dibahu kiriku Troll mengulurkan lengannya butuh perhatianku...

"Troll, kita berteman lebih dari 5 tahun…aku pasti peduli sama kamu…walaupun aku belum pernah melihat kamu...aku khawatir Troll, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu..." jelasku.

"Oh, Dan...maafkan aku ya...aku akan ke dokter lagi...aku akan ikuti saran dokter…janji..." kata Troll menenangkanku.

"Anything Troll, anything that I can do for you…just ask me, okay? Atau…kamu mau aku anter ke dokternya?" aku menawarkan bantuan untuknya.

Troll tidak langsung menjawab.

"No, thanks, Dan, kalau aku butuh bantuan aku pasti ngomong…" kata Troll. Aku diam, menghabiskan sisa rasa kesalku.

"Tell me Troll, apa saja kata dokter tentang kistamu itu, apa penyebabnya, apa gejalanya…" tanyaku ingin tahu.

"Awalnya aku sering merasa kesakitan banget tiap kali haid, Dan. Perut terasa kejang. Darah yang keluar sangat banyak, dan lama selesainya. Kadang bisa dua minggu lebih. Pas 3 bulan lalu, aku nggak tahan sakitnya dan aku sudah 4 minggu lebih keluar darah terus. Aku langsung ke dokter kandungan, ternyata ada penebalan dinding rahim - kelenjar dinding yang abnormal, istilahnya endometriosis. Penyebabnya sih, kata dokter susah untuk dipastikan, biasanya karena ketidak-seimbangan hormon dalam tubuh…nah, pada saat aku di USG, terlihat juga ada Kista, diameter 8 senti…" jelas Troll.

Aku menatap tulisannya bingung. Tidak begitu aku mengerti, tapi aku merasa hal itu sangat berbahaya.

"Ada hubungannya atau nggak, Troll,  antara endo…apa…endometriosis dan kista itu? Pengen tahu doang…" tanyaku, agak penasaran…atau…karena sebenarnya agar aku bisa mengawasi dan memastikan agar Troll tidak terlalu menganggap remeh penyakitnya itu.

"Kata dokter, jaringan endometrium yang terlepas ada juga kemungkinan salah jalan, nyasar ke saluran indung telur, dan sumbatan ini menyebabkan terbentuknya kista…" jawab Troll.

"Mengapa tadi kata kamu selama nggak hamil, nggak apa apa?" tanyaku penasaran.

"Kista itu berupa selaput yang isinya cairan. Kalau ukurannya nggak lebih dari 5 senti, nggak masalah. Tapi kalau ukurannya lebih dari 5 senti, pada saat aku hamil kista ini bisa melintir karena terdorong oleh perkembangan selama kehamilan. Kalau sudah melintir atau bertambah besar lagi, bisa pecah. Kalau pecah akan menimbulkan rasa nyeri hebat atau kematian…" jelas Troll.

"Tuh, kan bahaya?!? Jadi, nanti kamu dua kali tindakan operasi?" tanyaku lagi.

"Yang endometriosis sebenarnya aku sudah bereskan, Dan. Udah dikuret. Dibersihkan dinding rahimnya. Hasil cek lab jaringan endometrium nya bagus, nggak terdeteksi mengarah ke tumor atau kanker, penyebabnya hanya karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Udah dikasi obat pengatur keseimbangan hormon oleh dokter. Menstruasi 2 bulan ini sudah teratur. Kalau yang kista, belum di apa-apain..." jelas Troll.

"Ada akibat lainnya dengan adanya kista kamu itu?" tanyaku mengingat ada hubungannya dengan indung telur...

"Kalau kistanya menutup jalan sel telur, proses mendapatkan kehamilan akan sedikit terhambat. Ada hubungannya dengan pelepasan sel telur atau apa gitu, Dan, aku lupa...Tapi biarpun satu indung telur bermasalah, masih ada satu indung telur lagi, Dan…" jawab Troll.

"Troll, bersumpahlah kamu akan baik-baik saja…ikuti kata dokter…" kataku cemas.

"Iya, Dan…ok ..see you tomorrow, Dan…aku ada meeting  sekarang...bye…" Troll keluar.

Kepalaku berdenyut-denyut sekarang...Tidak masuk di akal, tapi aku merasa memiliki 2 orang wanita yang benar-benar menyita perhatian dan pikiranku, Liana dan Troll

###

Troll menatap monitor laptopnya. Gamang. Mengapa Daniel begitu peduli padanya? batinnya bertanya-tanya…membuatnya berharap…

Dan…
Kamu adalah satu-satunya rasa yang bisa aku raih,
setelah semua yang bisa aku jadikan pegangan,
menghindar, pergi, menjauh, menghilang…

Jangan tinggalkan aku, Dan…
kecuali kamu hanya ingin mendengar nama saja yang tersisa disini!

Pikiran bisa membalik a menjadi b, tapi hati akan selalu berkata a adalah a dan b adalah b…
Hati nggak akan pernah bisa bohong…
Dan hatiku sudah berbisik diantara aliran air mata, hanya kamu yang bisa memberiku rasa…

Raih hatiku, Dan…entah dengan tawamu atau dengan amarahmu!
Walaupun hatiku nggak akan bisa diraup dengan kedua telapak tanganmu…
Karena hatiku sudah menjadi serpihan halus…
Hati yang sudah terinjak oleh ribuan langkah yang berlari menghindar…

Sembuhkan hatiku, Dan…entah dengan pikiranmu atau dengan jiwamu!
Walaupun hatiku sudah dalam keadaan koma, oleh keadaan, emosi dan dingin…

Aku saat ini adalah buta…
dan yang bisa menuntunku saat ini hanyalah kamu…
Biarkan jariku meraba hatimu, agar aku bisa ingat bagaimana bentuk sebuah Cinta

Troll merenung sebentar, dilepaskannya kacamata minusnya, dia memijat pangkal hidung di antara kedua matanya perlahan...mengurangi rasa pegal dan rasa pening dikepalanya karena udara AC pas menyembur dari plafon diatas kepalanya.

Salah satu anak buahnya datang menghampirinya dengan gembolan besar ditangan kanannya dan tiga file ordner ditangan kirinya, menyita berjam-jam waktunya hari ini.

###

Aku pulang ke rumah dengan langkah lunglai, baru sampai di rumah jam 11 malam lebih. Aku sudah memberi tahu Liana tadi, aku pasti telat pulang ke rumah karena buyer Italia, mister Massimo datang lagi, kali ini dengan order percobaan - order perdana darinya. Hanya 4 ribu pieces Short Canvas Man dengan rinse wash ringan 15 menit.

Pikiranku terasa sangat berat hari ini, apalagi setelah papa dan mama mendatangiku di kantor...lalu Troll...

Troll, semoga kamu baik-baik saja...batinku berbisik.   

Liana akhir-akhir ini selalu tampak murung. Sikap cerianya seperti jejak kaki diatas pasir yang tersapu oleh tetesan air hujan...Hilang…tanpa bekas.

Beberapa kali Liana menolak untuk aku beri kepuasan…mengelak dengan alasan capek atau ngantuk...bukan Liana yang  telah lama kukenal.

Aku menghirup nafas dalam-dalam…aku ingin melihat Liana ceria lagi, seperti dulu...

Aku buka pintu kamarku perlahan. Liana sudah tidur. Aku duduk di sebelahnya. Menatap wajahnya. Aku mendekatkan mataku ke wajahnya lebih dekat. Mata Liana terlihat bengkak! Dia pasti habis menangis...mama!!

Aku menghembuskan nafasku panjang. Aku yakin mama sudah mengintimidasi Liana hari ini...

Aku elus pipi dan rambut istriku...ya Tuhan…apa yang harus aku lakukan?....bisikku dalam hati.

Aku ke kamar mandi, membersihkan badanku dengan hangatnya air, mengguyur ubun-ubunku agar rasa berat disana bisa luntur…

Untuk semenit aku merasa segar, tapi menit berikutnya otot-otot tubuhku mulai merenggang…aku lelah...aku ingin tidur.

Mataku hampir terpejam ketika kudengar suara dari mulut Liana… Aku menegakkan tubuhku, melihat wajah Liana dikeremangan lampu kamar.

Liana mengigau!

Mulutnya memanggil namaku berkali-kali! Bola matanya seperti bergerak-gerak gelisah! Nafasnya menderu, seperti habis lari jarak jauh!

Keringat mulai terlihat berupa titik - titik di dahinya!

Tiba-tiba Liana terjaga, memanggil namaku dengan kencang, langsung menegakkan tubuhnya dengan nafas terengah-engah. Matanya yang terbuka, menatap ke kanan dan ke kiri dengan liar!

"Liana...Sayang..." panggilku pelan, sambil mengusap punggungnya.

Liana menoleh ke arahku, seakan baru sadar ketakutannya itu hanyalah mimpi, dia langsung memelukku! Menangis tersedu-sedu di dadaku…

Aku memeluk tubuhnya erat…dan baru kusadari tubuh Liana semakin kurus...

Kupegang wajahnya yang sembab oleh air mata, kutatap matanya dalam…hatiku seperti diiris sembilu tajam...

"Jangan takut, Sayang...hanya mimpi…ada aku..." hiburku.

Tangisannya semakin pelan. Aku ciumi wajahnya yang basah, kurasakan asinnya disana...

Liana memelukku lagi dengan erat.

Aku membaringkan tubuhnya disisiku, kuletakkan kepalanya didalam rengkuhan lenganku agar menempel di dadaku.

Mataku yang tadinya sudah tak mampu untuk terbuka lebar, akhirnya melotot dengan jalangnya oleh rasa waspada untuk menjaga Liana.

Setengah jam ke depan, Liana belum tertidur. Dia masih tampak begitu gelisah...sebentar-sebentar badannya bergerak resah. Aku mengusap punggungnya dengan perlahan agar dia tenang.

Hening merajai suasana kamar yang remang-remang. Pikiranku melayang kemana-mana, perkerjaan, keluarga, Troll…

Troll!

Aku raih smartphone-ku, aku hanya ingin tahu apakah Troll sudah tidur atau belum. Agar? Entah…

Ternyata sudah. Troll sudah Offline, tapi dia sempat mengirimiku sebuah puisi.

Mas…entah sejak kapan rasa ini muncul,
Tak pernah kurencanakan hangatnya yang nyaman itu timbul,
Tiba-tiba saja aku selalu membuat dirimu begitu unggul,
Diantara serpihan hati dan doa yang selalu kuharap kan terkabul...

Mas...aku tidak bisa mengenyahkan cinta ini,
Apalagi membuatnya menghilangkan diri,
Yang hanya akan membuatku tersiksa sendiri,
Oleh rasa sakit di hati yang terasa perih!

Kubaca sekali lagi puisi Troll ini.

Mas?? Tumben Troll memakai kata mas di puisinya. Siapa yang dimaksud 'mas' oleh Troll? Cowok incarannya??

Aku menarik nafas panjang, ada rasa tidak suka membayangkan Troll mengirim puisi untuk orang lain...aku letakkan kembali hpku ke dalam laci dengan perasaan agak dongkol. Aku masih mengusap punggung belakang Liana...pemandangan ironis memang sebenarnya. Aku mengusap punggung istriku dengan rasa cintaku, disaat bersamaan aku juga sedang memikirkan Troll dengan segenap hatiku…

Setelah Liana tertidur, aku baru mulai memejamkan mataku…

Selengkapnya | comments (7)
 
© Copyright Baca Cerita Online: Portal Novel Erotis Terjemahan 2011 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates